Daftar Blog Inspirasi

Buku sekaligus Undangan karya kami

bahwa Dia adalah Cinta

Whiji Thukul,Tan Malaka,Marsina dan Munir

Mereka Tidak Mati:Kami Berlipat Ganda,Ide Kami Bergerilya

Laskar Buku

Berkhidmat untuk menyenangkan Hati Rasulullah SAW

Menyatu dengan Semesta

Dan Ketika Kerinduan Membawa Sepasang Kekasih Untuk Bersatu.

Membaca Bikin hIdup Lebih Bermakna

4500 Judul buku berbagai genre siap dibaca dan dipinjam gratis.

Kamis, 27 Agustus 2009

Kuputuskan ?????Karena Dia Tak Seperti Dulu Lagi,,,,,,,,



semua orang yg normal,pasti mempunyai ketertarikan (magnet) dengan lawan jenisnya karena merupakan konsekuensi logis sebagai makhluk yang ingin sempurna.tinggal bagaimana kita menyikapinya, apakah ditempu dengan jalur resmi atau non resmi.,,,,,
Walaupun sampai sekarang saya masih bingung sampai saat ini apakah pacaran itu diperbolehkan atau tidak. Tapi terlepas dari itu semua, sy hanya ingin mencoba berbagi pengetahuan tentang fenomena sekarang ,dikalangan anak muda hehehe(sy pun tdk tahu sy digolongkan dimana nih),,,,,
Seorang kekasih(Pacar,odo'2,suami istri,simpanan,dll,,,) mempunyai alasan mengapa dia memilih pasangannya.
misalnya saja si ACO memilih si BECCE karena BECCE cantik,putih,mulus,body GITAR,tinggi,mancung hidungnya,lurus rambutnya,dan sebagainya.Begitupun juga sebaliknya Si BECCE memilih si ACO karena Macho,Perutnya kayak Roti MAros,olahragawan,Tinggi, Putih,Kaya dan sebagainya..
Anggaplah misalnya tiba - tiba si ACO kecelakaan dan dia cacat, kurus,bangkrut,mukanya hancur dan sebagainya ,,,,,apakah kita masih setia mencintainya.?????
Tak sedikit yg bertahan,Kuputuskan engkau karena tak seperti dulu lagi,,,itulah kata yg dilontarkan,,,?????

Lalu dikisah yg berbeda sepasang kekasih (anggaplah misalx Budi dan Wati )memilih pasangannya karena Intelektual (Kecerdasan )dan Spritual ( Ajaran AGAMA),,, lalu tiba - tiba salah satunya keluar/jatuh dari nilai tersebut dan berulang kali mengingatkanya tuk kembali kejalan yg lurus.Maka secara otomatis halal kita untuk meninggalkan kekasih kita tersebut..,,,,karena dia tidak seperti dulu lagi,,,,,,,

Yang mau sy sampaikan dari cerita tersebut adalah harus di renungkan kembali apa alasan kita sebenarnya untuk memilih pasangan hidup kita, apakah yg seperti yg dikisahkan oleh ACO BECCE atau BUDI WATI. karena sangat logis memang jika kekasih kita memutuskan kita karena " alasan yg dulu tuk memilih kita telah hilang/pudar ".

Apapun " alasan " anda tuk memilih pasangan hidup anda seharusnya jika inigin memutuskannya,anda harus meniggalkannya karena " alasan" itu telah pudar/hilang.

Jadi., jika si ACO memilih BeCCE karena CAntik lalu tiba -tiba siBECCE selingkuh maka seharusnya siACO tdk boleh meninggalkan/Memutuskan siBECCE.

Jika si Wati memilih Budi karena Spritual lalu ternyata BUDI orangnya sangat miskin maka seharusnya WATI tak boleh meniggalkan siBUDI,,,,,


Menurutkuuu jika memilih alasan yg non materi (Spritula & Intelektual) itu lebih baik dan lebih tahan lama ketimbang memilih hal yg sifatnya sementara yakni Materi (Cantik,putih,mulus,gagh,tinggi, dll,,,)



Selamat Mengorekziiiiii & Mencooobaaa,,,,,,heeee

Sabtu, 08 Agustus 2009

Ohh..Blunder dalam... KKN


Ada beberapa pihak yang mengatakan bahwa KKN tidak ada gunanya

Ada juga yang mengatakan bahwa KKN hanya menghabiskan waktu, tenaga dan uang

Selain itu ada juga yang berpendapat bahwa KKN hanya sebagai formalitas untuk bisa menyelesaikan study. Seandainya bukan karena formalitas tersebut maka ndak usah capek-capek untuk mengikuti KKN. Kata seorang teman..

Ketika muncul anggapan seperti diatas, maka muncul pertanyaan kunci …

Tentang siapa yang harus disalahkan

Apakah mahasiswa yang gagap dalam memahami realitas dengan menggunakan ilmu yang dimilikanya

Apakah yang salah adalah tempat atau lokasi pelaksanaan KKN, misalnya instansi yang tidak mampu memberikan bimbingan kepada anak KKNnya atau lokasi desa yang didatangi yang tidak member respon posotif atas kedatangan anak KKN..atau

Apakah birokrasi kampus yang gagal mengelola atau mendesain format yang ideal dari KKN

Karena memang tak dapat dipungkiri bahwa salah satu akar masalah KKN sekarang ini adalah karena KKN hanya di jadikan sebagai proyek oleh beberapa pihak kampus. Dimana mahasiswa dipaksa untuk membayar uang yang cukup besar dengan rincian anggaran yang tidak realistis. Selain itu uang pembayaran juga senantiasa naik setiap tahun. Sehingga sangat memberatkan mahassiswa.

Karena pihak kampus (baca:birokrasi) pasti tahu betul masalah KKN yang sering terjadi

Misalnya: untuk KKN profesi, dimana banyak mahasiswa yang ternyata disuatu kantor hanya disuruh bikin teh atau foto copy berkas kantor. Ada juga yang hanya datang main game, datang cerita dan menemani pegawai kantor untuk bergosip, mungkin gosip tentang Manohara atau yang lain yang lagi hangat.

Sedangkan untuk KKN Reguler Beberapa blunder yang sering terjadi adalah:

*Pulang balik lokasi KKN dan Makssar

Masih seringya peserta KKN pulang balik sebagai salah satu bukti ketidakseriusannya KKN. Karena bagaimana bisa menyelesaikan semua program KKN dengan baik kalau tidak fokus dalam prosesnya. Serta bagaimana mampu merefleksikan ilmu kampus secara maksimal kalau waktu KKN lebih banyak habis untuk perjalanan pulang balik.

*Tidak berakhlak

Selain itu terkadang ada juga peserta KKN yang turun kelapangan atau masayarakat tapi perilakunya sungguh sangat tidak layak untuk dicontoh. Mereka tidak datang dimasyarakat untuk memberi bimbingan atau pendampingan sebagai kaum intelektual atau orang kampus. Tapi justru memberi kesan negatif atau bahkan menjadi bahan tawaan atau cerita masyarakat desa. Bahkan lebih parahnya, bisa jadi masyarakat akan mengambil kesimpulan yang berlebihan (over generalisasi) bahwa tidak ada gunanya anak disuruh kuliah karena ternyata cara berpikir dan perilakunya tidak menjadi lebih baik, bahkan tambah rusak ketika pergi sekolah ke kota dan meninggalkan orang tua di kampung.

Ketika hal tersebut betul terjadi di lapangan, maka bisa dipikirkan betapa besar dosa agama maupun dosa sosial yang teman-teman peserta KKN telah lakukan.

*Mati kiri

Mati kiri juga menjadi salah satu penyakit kronis beberapa peserta KKN, dimana mereka turun kelapangan tujuan utamanya bukan untuk menguji ilmu kampusnya atau berbuat sesuai dengan salah satu perintah tridarma perguruan tinggi yaitu pengabdian kepada masyarakat. Tapi justru terjebak dengan godaan material. Yang kalau penulis meminjam istilah Rhoma Irama”bunga desa” dalam salah satu lagunya yang cukup legendaris.

Siapapun tak ada yang dapat memungkiri bahwa perasaan mencintai kepada lawan jenis adalah sesuatu yang dimiliki oleh manusia normal. Karena hal tersebut adalah fitrah dari sang pemilik cinta (Allah SWT). Yang menjadi persoalan kemudian adalah apakah kita mampu mempertimbangkan etika dan konteks dalam implementasi dari rasa tersebut atau tidak.

Karena ketika turun kelapangan tujuan utamanya adalah untuk mencari lawan jenis, bukan untuk pengabdian maka bisa jadi muncul pertanyaan kunci. Apakah yang turun KKN adalah Mahasiswa (baca: Maha: besar, luas …sedangkan siswa: pelajar. Jadi mahasiswa adalah pelajar yang luas atau komprehensip ilmunya) atau bisa jadi yang turun adalah “maaf”para lelaki hidung belang. (silahkan direnungkan 10 menit sebelum anda tidur nanti)

Kita harus jujur bahwa perilaku oknum yang mati kiri di saat pelaksanaan KKN dapat mencedraii substansi dari proses KKN. Yaitu sebagai salah satu bentuk pertanggung jawaban intelektual.

*Ceplas ceplos dan sok cerdas

Sikap yang lain terkadang muncul di lokasi KKN adalah adanya oknum yang ceplas ceplos. Dalam artian asal bicara. Mengemukakan sesuatu bukan berdasar analisis rasional atau pertimbangan fakta tapi asal sembarang ngomong. Bahkan dengan pilihan kata yang merobek hati. Hal tersebut pasti sangat bertentangan dengan karakter mahasiswa yang katanya dewasa, rasional, objektif dll. Dengan adanya oknum seperti tersebut maka masyarakat bisa salah paham dan merasa direndahkan oleh peserta KKN. Mungkin karena merasa dari kota dan punya pendidikan yang lebih tinggi. Sehingga asal ngomong dan memangdang enteng masyarakat desa.

Ketika menghadapi orang dengan karakter tersebut maka korcam(coordinator kecamatan) atau kordes(kordinator desa) atau yang diangap di tuakan atau merasa lebih dewasa dalam tim/ rombongan KKN, harus memberanikan diri untuk menegur orang yang sering ceplas ceplos tersebut. Supaya tidak memberi efek negatif yang lebih parah dari masyarakat terhadap Universitas Hasanuddin, maupun pandangan umumnya tentang Mahasasiswa.

*Mau menang sendiri

Ada juga orang yang mau menang sendiri. Selalu hanya pendapatnya yang dianggap benar sedangkan orang lain pasti salah dan butuh bimbingannya. Ini sebenarnya juga salah satu penyakit yang berbahaya dalam pelaksanaan KKN karena oknum seperti tersebut dapat memecah kekompakan tim atau kelompok.

*Aktualisasi diri yang berlebihan

Yang sering juga muncul dan berbahaya adalah orang berlebihan dalam aktualisasi diri. Dimana mereka tampil tidak pada tempatnya atau tidak kontekstual. Hal tersebut muncul karena adanya keinginan untuk dikatakan yang paling cerdas, paling cantik, paling gagah, paling beriman serta menganggap bahwa hanya dirinyalah yang layak masuk surga.

*Suka mojjo - Manja

Sikap suka mojjo sebenarnya adalah sikap yang cukup menyedihkan ketika harus dipertontonkan oleh Mahasiswa karena dianggap mereka sudah memiliki pengetahuan yang lebih di banding anak SMA atau yang tidak sempat kuliah. Hal tersebut pada hakekatnya muncul bisa jadi karena dari kecil sudah dimanja oleh orang tua, bisa juga karena telah beralih agama. Dimana agama barunya bernama Televisi. Dia berbicara, berpakain dan mengambil pilihan dalam hidupnya sesuai dengan apa yang ada dalam televisi. Meskipun terlihat menikmati hidupnya, tapi sesungguhnya telah menjadi budak dari para kaum kapitalis. Silahkan baca buku”matikan TV mu” untuk lebih lengkapnya…!!!

*Malas beribadah

Yang menjadi masalah juga biasanya adalah perilaku peserta KKN yang malas beribadah. Ketika bicara di forum atau didepan masyarakat sangat fasih. Apalagi tentang perubahan sosial atau tentang harapan hari esok. Tapi ternyata me manaj (mengatur) diri sendiri saja, seperti beribadah sudah sangat sulit. Sehinga muncul kemudian pertanyaan kunci masyarakat. Bagaimana mereka (baca: mahasiswa KKN) mau memperbaiki kami sedangkan dirinya saja tidak beres. Bagaimana mereka mau menempati janji kepada kami sedangkan janji kepada Tuhannya saja dia ingkari.

*Hedon/ gaya, suka jalan (pajokka)

Beberapa anak KKN yang memang waktu dikampus punya kebiasaan jalan-jalan ke Mall. Bahkan ada istilah”Cemol” cewek yang keseringan ke Mall. Ternyata pada saat KKN kebiasaan tersebut tetap dilanjutkan dengan kebiasaan suka jalan-jala atau “pajokka”. Sehingga agenda inti dari KKN terbengkalai. Karena sibuk tebar pesona.

Dalam kajian Filsafat Cinta. Perilaku perempuan seperti tersebut adalah perilaku yang sangat murahan. Karena memaksa diri untuk dicintai. Padahal konsep universalitas Cinta adalah jiwa senantiasa mencari sesamanya. Hakekat cinta bukan pada fisik. Tentang tema Filsafat Cinta, nanti dibahas di waktu yang lain. Atau silahkan cari bukunya di toko terdekat di kota anda.!!!

*Elitis (mungkin karena anak pejabat)

Hal lain yang dapat merusak suasana dari proses KKN adalah adanya beberapa oknum yang menganggap dirinya sebagai kelompok elit. Mungkin karena merasa anak pejabat atau pengusaha. Meskipun pertanyaan kunci bagi mereka sekiranya orang tuanya pejabat adalah. Apakah ortunya adalah pejabat yang jujur atau mungkin keruptor yang merampok uang rakyat. Sekiranya begitu maka tidak lama lagi pasti akan mendapat giliran panggilan KPK. Maka tak perlulah di banggakan sampai harus memandang enteng atau memadang rendah teman-teman KKN yang lain atau meremehkan masyarakat

Termasuk yang mengaku anak pengusaha. Karena ketika ortunya adalah pengusaha hitam atau istilah gaulnya”kapitalis lokal” maka sesungguuhnya tinggal menunggu waktu saja mereka akan di panggil juga oleh penegak hukum atau akan di hakimi oleh massa rakyat. Atas keserakahannya.

*Pragmatis

Tipikal orang yang pragmatis juga tak dapat di lupakan memberi sumbangsi negatif dalam proses KKN. Karena orang seperti tersebut hanya mau bekerja atau berbuat ketika ada keuntungan langsung yang diterimanya. Sangal sulit berbuat ketika hanya di landasi oleh keikhlasan. Setiap mengambil pilihan yang dihitungnya adalah untung rugi untuk dirinya.

************************

Yang terpenting sebenarnya dari KKN adalah bagaimana merekreasikan ilmu pengetahuan yang diperoleh selama dikampus. Bagaimana menguji ilmu tersebut dengan mendealektikakannya (baca:memperhadapkannya) dengan realitas. Sehingga bisa mencapai kesimpulan yang lebih kuat. Atau bisa juga menghasilkan sintesa atau gagasan baru.

Karena memang proses dalam ruang kuliah tidak akan mampu untuk menciptakan sarjana yang ideal yang punya pengetahuan dan kemampuan membaca realitas sejarah, realitas kekinian maupun realitas hari esok dengan baik. Harus di sempurnakan dengan berdealektika langsung dengan dunia nyata. Sehinga kampus tidak menjadi menara gading dan mahasiswa serta sarjananya tidak menjadi penghafal teori yang terkadang sudah kadaluarsa bahkan terkadang menyesatkan.

Terakhir. Semoga proses KKN saya, anda dan kita semua bisa memberi makna tentang kebersamaan, tentang perjuangan hidup masyarakat, tentang realitas pemerintah yang terkadang masih bobrok, kaum agamawan yang ternyata masih tertidur melihat realitas bangsa dan penderitaan masyarakat. Bagitu pula dengan bisu (diamnya) kaum intelektual (kaum terdidik) dalam melihat pembodohan sistemik yang dilakukan atas perselingkuhan yang sangat mesra antara penguasa zalim dan pengusaha rakus.

Semoga dengan proses KKN ini, kita semua bisa saling memberi dan memahami .serta saling memperbaiki untuk hari esok yang lebih baik.

Maaf sekiranya ada yang kurang berkenan dari tulisan ini. ..salam

Hidup rakyat…Hidup Mahasiswa


by: KCBL

Kamis, 02 Juli 2009

Reformasi Dirahim POLRI ( Dalam Rangka Memperingati HUT POLRI ke- 63)

Reformasi Dirahim POLRI ( Dalam Rangka Memperingati HUT POLRI ke- 63)

Hari Ulang Tahun Bhayangkari ke-63 merupakan suatu hal yang mungkin saja berbeda ataupun tetap stagnasasi di tubuh POLRI. Upacara yang dilaksanakan kemarin pun berbeda seperti biasanya, yang tahun sebelumnya diluar gedung Outdour kini dibungkus dengan atraksi ,kegiatan yang berada dalam gedung indoor agar kelihatan sedikit elegan, eksklusif, rapi, sopan dan menandakan bahwa POLRI sudah melakukan perubahan. Tapi ini hanya merupakan sekedar seremonial acara rutinitas setiap tahunnya tak ada perubahan yang signifikan, keramahan, senyuman dan reformasi adminitrasi hanya salah satu solusi itupun tidak menyentuh substansialnya. Citra “ negative ”yang melekat di masyarakat tak akan luntur jika reformasi POLRI hanya tataran teoritis semata dan juga tidak menyentuh hal yang substansial.

Menurut saya perubahan yang paling pertama diberlakukan oleh POLRI jika memang punya niat untuk berbenah diri yakni dari rahimnya (tempatnya dilahirkan) metode perekrutan yang bersih / menghilangkan budaya nepotisme, tak bisa dipungkiri dan sudah menjadi rahasia umum, sampai saat ini untuk menjadi anggota POLRI harus membayar puluhan juta, jika tidak keberhasilan untuk masuk hanya sekian persen itupun juga harus mempunyai orang dalam yang pangkatnya lebih tinggi. Ini berarti seseorang yang masuk ke kesatuan POLRI bisa dianalogikan tanam saham. Bayar puluhan juta untuk masuk dengan harapan 2 atau 3 tahun depan uang tersebut akan kembali bahkan bertambah. Pertanyaan yang muncul kemudian darimana uang tersebut didapatkan sedangkan gaji POLRI sekarang tidak memadai. Nah, inilah mengapa sering terjadi , sogok menyogok dijalan , pungutan liar dengan casing keamanan, biaya plus –plus urus surat – surat di kantor kepolisian dan masih banyak lagi yang sering dialami dan merugikan masyarakat.

Kedua mengubah sistem pendidikan/pelatihan, yang dilatih tidak hanya menitik beratkan pada fisik tapi juga kecerdasan intelektual, emotional dan spiritual. Ini sangat baik jika melakukan pengamanan terhadap masyarakat khususnya jika terjadi demonstrasi, kerusuhan ataupun kejahatan. Bukan Cuma badan atau fisiknya yang besar tapi Jiwa dan kecerdasannya juga harus besar.

Ketiga, KAPOLRI harus tegas dalam menindaki anak buahnya yang bermasalah tanpa tebang pilih dan semuanya harus dimulai dari Pimpinan yang memberikan contoh dan perilaku yang baik terhadap bawahannya. Banyak kasus yang dilakukan oleh oknum polisi tapi hukuman yang diberlakukan tidak sesuai dengan pelanggarannya bahkan ada yang tidak ditindaklanjuti.

Terlepas dari hal diatas tak bisa dipungkiri juga bahwa salah satu penyebab yang memberikan kontribusi besar terhadap image” negatife “ kepolisian adalah gaji POLISI yang masih rendah. Disini perlu peran pemerintah untuk menyelesaikan masalah financial tersebut agar fokus reformasi POLRI dalam hal perekrutan dan penegakan hukum berjalan maksimal. Masyarakat sangat membutuhkan POLRI sesuai dengan fungsi dan tugasnya bukan musuh masyarakat tapi pengayom masyarakat. Semoga Reformasi POLRI bukan cuma Utopia belaka tapi merupakan suatu keharusan yang berpihak pada nilai kebenaran dan keadilan demi terwujudnya masyarakat yang aman, adil, makmur dan sejahtera.

Senin, 01 Juni 2009

Tulisan Binder 2006

Menarik sekali pembicaraan mengenai mahasiswa reguler sore yang telah dibicarakan dibeberapa media. Berbagai badai kritikan ditempa oleh mahasiswa reguler sore, sungguh kasihan sekali mahasiswa tersebut ,termasuk penulis. Tidak bisa dipungkiri terhadap realitas, jika memang anak – anak reguler sore yang dulu namanya ekstensi dikenal dengan Hedonisme dan Apatisnya.Datang ke kampus untuk pamer HP baru, baju baru, style baru atau lebih mengutamakan style daripada belajar sehingga kampus dijadikan mall. Di mall tempat cuci mata, bisnis, jalan – jalan, dan sebagainya. Namun, yang saya tidak sepakati kalau kritikan tersebut digeneralisasikan, dan banyak orang terjebak/overgeneralisasi karena itu adalah intelektual kuldesak ( kesalahan berpikir ). Jadi, seakan – akan semua mahasiswa reguler sore orangnya Hedonis dan tidak peduli terhadap Negara. Padahal tidak semuanya, seperti yang dilakukan oleh teman – teman di fakultas ekonomi reguler sore, masih ada yang peduli terhadap kemiskinan, ketidak adilan, BHP dan lain – lainnya. Yang sangat menyedihkan lagi, mahasiswa reguler sore divonis orangnya bodoh – bodoh. Bagi saya orang yang mengkritik tersebut menyalahkan korban, yang dimana dipaparkan oleh Paulo Freire “ Kesadaran Naif “. Padahal bagi penulis struktur/sistem pendidikanlah yang salah,misalnya: orang masuk kuliah kan, pada dasarnya memang bodoh makanya dia kuliah untuk menjadi cerdas, kalo dia memang sudah cerdas buat apa kuliah. Lalu yang kedua, kalau memang sudah beberapa tahun belajar, tetapi masih tetap bodoh jangan salahkan mahasiswanya. Lihat pengajarnya/dosennya dan lingkungan kampusnya. Apakah dosennya sudah maksimal mengajar, ternyata tidak banyak (seharusnya di tulis tidak sedikit) dosen di reguler sore yang malas masuk bahkan cuma sekali masuk dalam satu semester, belum lagi pada saat mengajar cuma sisa – sisa tenaga yang dia berikan kepada mahasiswanya karena paginya mengajar direguler pagi. Begitupun kondisi kampusnya tidak ada perpustakaan, tempat bernaung, lab.komputer, khususnya di fak.ekonomi reguler sore UNHAS.

Usaha yang dilakukan oleh lembaga mahasiswa reguler sore khususnya FE – UH dalam mengcounter budaya – budaya yang tidak seharusnya ada di tempat yang sangat mulia ini (kampus) adalah menciptakan budaya yang selama ini tidak ada , misalnya: budaya diskusi , budaya membaca & menulis dan turun kejalan untuk melawan penindasan. Karena tidak sah namanya kampus jika tidak ada budaya demikian. Sebagai penutup, saya kutip pernyataan Kang Jalal “ Mustahil ada perubahan kearah yang benar, kalau kesalahan berpikir masih menjebak dibenak kita “.