Daftar Blog Inspirasi

Buku sekaligus Undangan karya kami

bahwa Dia adalah Cinta

Whiji Thukul,Tan Malaka,Marsina dan Munir

Mereka Tidak Mati:Kami Berlipat Ganda,Ide Kami Bergerilya

Laskar Buku

Berkhidmat untuk menyenangkan Hati Rasulullah SAW

Menyatu dengan Semesta

Dan Ketika Kerinduan Membawa Sepasang Kekasih Untuk Bersatu.

Membaca Bikin hIdup Lebih Bermakna

4500 Judul buku berbagai genre siap dibaca dan dipinjam gratis.

Rabu, 03 Februari 2010

Senin, 01 Februari 2010

Kaca Mata "Elang" vs "Cacing"

Bebas Terbang Diudara.

Semakin tinggi terbang ,semakin kecil benda – benda yg berada dibawah. Bagaikan Elang yg melihat sesuatu dari atas . Mungkin ini yg disebut Muhammad Yunus , peraih nobel Ekonomi yg mengkritik perekonomian bangsanya bahkan yang melanda dunia saat ini. Bahwa kita memandang masalah bangsa dengan kaca mata elang ,yang hanya melihat dari atas nampak dari permukaanx saja. Dalam titik tertentu aku sepakat karena memang sangat indah jika melihat dari atas , Kumpulan awan – awan putih seolah bergerak bagaikan kapas ditengah – tengah langit yg biru,. Dibawahnya terdapat gunung – gunung yg berjajar ., Laut nan biru ikut andil dalam menyempurnakan keindahan itu . Manusia , Pohon – pohon , kendaraan ,atap – atap rumah dan kota – kota hanya bagaikan titik – titik warna warni yang menghiasi dunia ini . Sungguh indah karunia-Nya.

Bebas terbang diudara hanya sesat karena akan kembali kedaratan lagi ,

berada dibawah dan memakai kacamata cacing , kita melihat Kumpulan rakyat miskin memaksa dirinya untuk bergerak mencari sesuap nasi, Kita melihat buruh petani berjuang mencari biaya untuk menyekolahkan anaknya, Kita melihat masyarakat yg sakit terbaring dirumahnya karena tak mampu untuk berobat dirumah sakit, Kita melihat anak jalanan mengamen,menjual Koran, membersihkan kendaran yg berhenti dipersimpangan lampu merah, dia menggangap jalanan sebagai rumah,kantor sekaligus sekolah dan tempat bermain mereka. Apakah ini keindahan Ya Ilahi?.

Inilah yg dimaksud Oleh Muhammad Yunus , kita harus terjun langsung ke bawah untuk melihat realitas sesungguhnya dan mengatasinya dari bawah bukan dari atas. Karena jika diatas hanya melihat permukaannya saja. Kemiskinan dan Penggangguran tidak selesai di gedung tinggi , diatas meja dan ruangan mewah tapi harus diselesaikan di Masyarakat.


Di Tengah Awan Putih Langit Biru, 1 February 2010

Hidup untuk Makan atau Makan untuk Hidup.

Dunia begitu luas untuk diarungi , begitu juga ilmu yang tak terbatas tapi ilmu lebih universal dibanding dengan dunia karena dunia yang memiliki unsur materialisme yang sering sekali mengalabui manusia. Ilmu sangat berarti dalam hidupku , sebagaimana yang dikemukakan oleh ulama Besar , Seandainya Orang mengetahui keutamaan ilmu , dia akan mengauri samudera walaupun darah jadi taruhan.

Banyak orang yg menggangap sepele tentang ilmu, mereka mengganggap bahwa ilmu itu untuk bertahan hidup. Mereka sekolah ,kuliah dan belajar untuk mencari kerja dan meninggikan status sosialnya. Bagiku tidak, Ilmu itu untuk memaknai hidup. Kita Makan untuk hidup, Bukan Hidup untuk Makan, “ kata seorang filsuf “ ketika ditanya ,mengapa tubuhnya begitu kurus.

Seandainya Bisa , Ilmu dijadikan Rukun Islam. Bahkan melebihi itu, menurutku ilmu lebih mempunyai keutamaan dibanding rukun islam lainnya . Dapat didapatkan dimanapun , kapanpun, berbeda dengan shalat , puasa, yang mempunyai waktu tertentu,begitupula dengan haji yg memakan biaya yang cukup mahal tapi ilmu gratis yg penting kita mau belajar.

Surabaya, 1 February 2010