Daftar Blog Inspirasi

Buku sekaligus Undangan karya kami

bahwa Dia adalah Cinta

Whiji Thukul,Tan Malaka,Marsina dan Munir

Mereka Tidak Mati:Kami Berlipat Ganda,Ide Kami Bergerilya

Laskar Buku

Berkhidmat untuk menyenangkan Hati Rasulullah SAW

Menyatu dengan Semesta

Dan Ketika Kerinduan Membawa Sepasang Kekasih Untuk Bersatu.

Membaca Bikin hIdup Lebih Bermakna

4500 Judul buku berbagai genre siap dibaca dan dipinjam gratis.

Kamis, 02 Juli 2009

Reformasi Dirahim POLRI ( Dalam Rangka Memperingati HUT POLRI ke- 63)

Reformasi Dirahim POLRI ( Dalam Rangka Memperingati HUT POLRI ke- 63)

Hari Ulang Tahun Bhayangkari ke-63 merupakan suatu hal yang mungkin saja berbeda ataupun tetap stagnasasi di tubuh POLRI. Upacara yang dilaksanakan kemarin pun berbeda seperti biasanya, yang tahun sebelumnya diluar gedung Outdour kini dibungkus dengan atraksi ,kegiatan yang berada dalam gedung indoor agar kelihatan sedikit elegan, eksklusif, rapi, sopan dan menandakan bahwa POLRI sudah melakukan perubahan. Tapi ini hanya merupakan sekedar seremonial acara rutinitas setiap tahunnya tak ada perubahan yang signifikan, keramahan, senyuman dan reformasi adminitrasi hanya salah satu solusi itupun tidak menyentuh substansialnya. Citra “ negative ”yang melekat di masyarakat tak akan luntur jika reformasi POLRI hanya tataran teoritis semata dan juga tidak menyentuh hal yang substansial.

Menurut saya perubahan yang paling pertama diberlakukan oleh POLRI jika memang punya niat untuk berbenah diri yakni dari rahimnya (tempatnya dilahirkan) metode perekrutan yang bersih / menghilangkan budaya nepotisme, tak bisa dipungkiri dan sudah menjadi rahasia umum, sampai saat ini untuk menjadi anggota POLRI harus membayar puluhan juta, jika tidak keberhasilan untuk masuk hanya sekian persen itupun juga harus mempunyai orang dalam yang pangkatnya lebih tinggi. Ini berarti seseorang yang masuk ke kesatuan POLRI bisa dianalogikan tanam saham. Bayar puluhan juta untuk masuk dengan harapan 2 atau 3 tahun depan uang tersebut akan kembali bahkan bertambah. Pertanyaan yang muncul kemudian darimana uang tersebut didapatkan sedangkan gaji POLRI sekarang tidak memadai. Nah, inilah mengapa sering terjadi , sogok menyogok dijalan , pungutan liar dengan casing keamanan, biaya plus –plus urus surat – surat di kantor kepolisian dan masih banyak lagi yang sering dialami dan merugikan masyarakat.

Kedua mengubah sistem pendidikan/pelatihan, yang dilatih tidak hanya menitik beratkan pada fisik tapi juga kecerdasan intelektual, emotional dan spiritual. Ini sangat baik jika melakukan pengamanan terhadap masyarakat khususnya jika terjadi demonstrasi, kerusuhan ataupun kejahatan. Bukan Cuma badan atau fisiknya yang besar tapi Jiwa dan kecerdasannya juga harus besar.

Ketiga, KAPOLRI harus tegas dalam menindaki anak buahnya yang bermasalah tanpa tebang pilih dan semuanya harus dimulai dari Pimpinan yang memberikan contoh dan perilaku yang baik terhadap bawahannya. Banyak kasus yang dilakukan oleh oknum polisi tapi hukuman yang diberlakukan tidak sesuai dengan pelanggarannya bahkan ada yang tidak ditindaklanjuti.

Terlepas dari hal diatas tak bisa dipungkiri juga bahwa salah satu penyebab yang memberikan kontribusi besar terhadap image” negatife “ kepolisian adalah gaji POLISI yang masih rendah. Disini perlu peran pemerintah untuk menyelesaikan masalah financial tersebut agar fokus reformasi POLRI dalam hal perekrutan dan penegakan hukum berjalan maksimal. Masyarakat sangat membutuhkan POLRI sesuai dengan fungsi dan tugasnya bukan musuh masyarakat tapi pengayom masyarakat. Semoga Reformasi POLRI bukan cuma Utopia belaka tapi merupakan suatu keharusan yang berpihak pada nilai kebenaran dan keadilan demi terwujudnya masyarakat yang aman, adil, makmur dan sejahtera.

Senin, 01 Juni 2009

Tulisan Binder 2006

Menarik sekali pembicaraan mengenai mahasiswa reguler sore yang telah dibicarakan dibeberapa media. Berbagai badai kritikan ditempa oleh mahasiswa reguler sore, sungguh kasihan sekali mahasiswa tersebut ,termasuk penulis. Tidak bisa dipungkiri terhadap realitas, jika memang anak – anak reguler sore yang dulu namanya ekstensi dikenal dengan Hedonisme dan Apatisnya.Datang ke kampus untuk pamer HP baru, baju baru, style baru atau lebih mengutamakan style daripada belajar sehingga kampus dijadikan mall. Di mall tempat cuci mata, bisnis, jalan – jalan, dan sebagainya. Namun, yang saya tidak sepakati kalau kritikan tersebut digeneralisasikan, dan banyak orang terjebak/overgeneralisasi karena itu adalah intelektual kuldesak ( kesalahan berpikir ). Jadi, seakan – akan semua mahasiswa reguler sore orangnya Hedonis dan tidak peduli terhadap Negara. Padahal tidak semuanya, seperti yang dilakukan oleh teman – teman di fakultas ekonomi reguler sore, masih ada yang peduli terhadap kemiskinan, ketidak adilan, BHP dan lain – lainnya. Yang sangat menyedihkan lagi, mahasiswa reguler sore divonis orangnya bodoh – bodoh. Bagi saya orang yang mengkritik tersebut menyalahkan korban, yang dimana dipaparkan oleh Paulo Freire “ Kesadaran Naif “. Padahal bagi penulis struktur/sistem pendidikanlah yang salah,misalnya: orang masuk kuliah kan, pada dasarnya memang bodoh makanya dia kuliah untuk menjadi cerdas, kalo dia memang sudah cerdas buat apa kuliah. Lalu yang kedua, kalau memang sudah beberapa tahun belajar, tetapi masih tetap bodoh jangan salahkan mahasiswanya. Lihat pengajarnya/dosennya dan lingkungan kampusnya. Apakah dosennya sudah maksimal mengajar, ternyata tidak banyak (seharusnya di tulis tidak sedikit) dosen di reguler sore yang malas masuk bahkan cuma sekali masuk dalam satu semester, belum lagi pada saat mengajar cuma sisa – sisa tenaga yang dia berikan kepada mahasiswanya karena paginya mengajar direguler pagi. Begitupun kondisi kampusnya tidak ada perpustakaan, tempat bernaung, lab.komputer, khususnya di fak.ekonomi reguler sore UNHAS.

Usaha yang dilakukan oleh lembaga mahasiswa reguler sore khususnya FE – UH dalam mengcounter budaya – budaya yang tidak seharusnya ada di tempat yang sangat mulia ini (kampus) adalah menciptakan budaya yang selama ini tidak ada , misalnya: budaya diskusi , budaya membaca & menulis dan turun kejalan untuk melawan penindasan. Karena tidak sah namanya kampus jika tidak ada budaya demikian. Sebagai penutup, saya kutip pernyataan Kang Jalal “ Mustahil ada perubahan kearah yang benar, kalau kesalahan berpikir masih menjebak dibenak kita “.

Rabu, 20 Mei 2009

Penggusuran Menggila , Pasca PEMILU 2009

Maraknya petugas penggusuran akhir2 ini karena birokrasi memanfaatkan kondisi politik yang stagnan pasca pemilu 2009 karena belum jelasnya. siapa yang selanjutnya duduk diparlementer.,,,.,Kali jagir Surabaya 4 mei 2009 Korban penggusuran bangunan ,,,,Bandung 5 mei penggusuran bangunan berakhir bentrok,,,Bengkulu 23 april 2009 TNI vs rakyat,,,,,,,Senin 11 mei 2009 surabaya.,,,Korban penertiban PKL adalh balita yang tersiram kuah air panas bakso dan akhirnya meniggal dunia tanggal 18 mei 2009 setelah dirawat di rumah sakit setempat.,Satuan Polisi Pamong Praja sebaiknya diberi gelar Satuan Polisi Petugas PenggusuranEkonomi kerkyatan yang diagungkan hanya jualan kampanye buktinya birokrasi sendiri yang anti ekonomi rakyat ditandai dengan penggusuran PKL ,,,,,,

Kerasnya arus neolib memaksa ekonomi rakyat untuk kalah dalam persaingan ,,,,sehingga pasar tradisional,,,PKL dipaksa untuk mundur ,,,,Pasar tradisional dengan Image kotor,jorok,panas,padat,tidak teratur,memacetkan jalan adalah alasan bagi pemerintah yang notabene selingkuh kpd para pengusaha/pemilik modal,, untuk melakukan renovasi,pengambil alihan lahan ,penjualan asset Negara untuk dikelola pemilik modal.PKL, Pasar tradidional merupakan batu sandungan yang akan mengancam program – programnya sehingga harus disingkirkan….

Dalam konteks politik nasional,,,, kontrak politik bersama pengusaha yang menyokong dana kampanye sehingga ada timbal balik untuk memuluskan usaha/proyek yang akan dilaksanakan ke depan.,

Pemerintah selalu memberikan alternative tempat lain untuk berjualan tapi analisis pemasaran tidak memadai,,,,Setiap hari membayar retribusu/pajak tapi toh tetap digusur.

Tak tahu apa dalam kepala pemerintah mengapa suka mengabaikan hak-hak orang miskin yang mendapat perlindungan hak asasi manusia (HAM). Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM mengamanatkan, penggusuran merupakan tindakan melanggar HAM, yaitu hak hidup tenteram, damai, dan aman.

Mudah – Mudahan setelah PILPRES 2009 nanti tak ada lagi Penggusuran.

KeEgoisan BerOrganisasi

Hal yang paling mendasar yang perlu kita jawab ,ketika kita terjun di dunia organisasi adalah mengapa kita mesti berorganisasi? , apa motif kita untuk berorganisasi?.Jawaban setiap manusia pasti berbeda – beda mulai dari tambah curriculum vitae, mengisi kekosongan waktu, mencari pasangan hidup dan sebagainya.Tapi kalau menurut saya harus ada tingkatan yang lebih tinggi mengapa kita mesti berorganisasi.Saya pribadi bahwa kita berorganisasi karena ingin mendekatkan diri kepadaNya.,organisasi merupakan ibadah untuk mencari kebenaran sebagaimana mestinya.,,,,

Entah Sadar ato tidak ,,,terkadang dalam organisasi kita sering membanggakan organisasi yg kita jalankan,bahkan mengganggap bahwa organisasi kitalah yang paling baik,sempurna,progresif dan sebagainya.
Menurut saya Keberhasilan Organisasi,seberapa banyak org yg diajak tuk belajar,berkhidmat kpd sesama manusia. Bagiku Doktrin organisasi bukan metode yang baik, karena mengajarkan kpd kader2 tuk egoistis,tidak merdeka,berpikir sempit,,,,,,,,

Keberhasilan bukan diucapkan,diperlihatkan,dipamerkan tapi Orang2 yang ada disekitar kitalah yang menilai,,,,Keberhasilan bukan dikatakan sukses dari berapa banyak program kerja yang telah terealisasi tapi bagaimana tingkah laku kita ditengah – masyarakat atau orang2 sekitar kita,,,Walaupun seribu prestasi yang kita raih tapi akhlaq, tingkah laku, ataupun tindakan kita sehari – hari buruk dimata masyarakat,secara otomatis stigma di masyarakat Negatif,,,,

Sulit memang berorganisasi karena merupakan suatu rangkaian yang tak dapat dipisahkan dari diri kita karena paradigma masyarakat terkadang over generalisasi, satu yang berbuat kesalahan secara otomatis,kita yg berada di organisasi tersebut kena getahnya atau juga masyarakat jarang membedakan antara pribadi dan organisasi, misalnya si A yang aktif berorganisasi XYZ di kampus sedang berkumpul dengan temannya yang bukan organisatoris dan diluar kegiatan kampus telah bermain judi, stigma orang bahwa si A anggota dari organisasi XYZ melakukan perbuatan yang buruk, tidak secara pribadi Si A nya tapi juga mengikutkan XYZ .secara otomatis kita yang berada didalam struktur XYZ ikut serta kena imbasnya dan organisasi kita tercitra negative.

Sudah selayaknyalah kita mengubah metode pengkaderan yang kita lakukan dan secara terus menerus mengevaluasi untuk mencari metode pengkaderan yang ideal sesuai tantangan zaman dan tujuan organisasi kita dibentuk.

Berdasarkan perjalanan intelektual saya,walaupun berat dan sulit,untuk menuju Kebenaran kita harus meruntuhkan ke Egoan kita mulai dari ego individu,keluarga,kelompok,suku,bangsa tuk menuju EgoNya.