Daftar Blog Inspirasi

Buku sekaligus Undangan karya kami

bahwa Dia adalah Cinta

Whiji Thukul,Tan Malaka,Marsina dan Munir

Mereka Tidak Mati:Kami Berlipat Ganda,Ide Kami Bergerilya

Laskar Buku

Berkhidmat untuk menyenangkan Hati Rasulullah SAW

Menyatu dengan Semesta

Dan Ketika Kerinduan Membawa Sepasang Kekasih Untuk Bersatu.

Membaca Bikin hIdup Lebih Bermakna

4500 Judul buku berbagai genre siap dibaca dan dipinjam gratis.

Selasa, 11 Februari 2014

Perempuan Kolot dan Primitif

Sekian lama tidak berdiskusi dengan kekasih saya (kata istri diganti menjadi kekasih karena nada tersebut “sensitive” dilingkungan saya dan agar tidak dicap sebagai intoleran berasmara). Semalam kekasih saya memulai pertanyaan yang sifatnya historis mengenai perjalanan hidup saya. Dia memulai dengan pertanyaan “Kak katanya banyak fansTa dulu ?”. saya tersenyum sambil meraba-raba maksud dan tujuannya. “Ah, siapa bilang ”jawabku. “Ada yang memberitahukan” jawabnya. Saya tidak menjawabnya secara langsung tapi melemparkan ketawa – ketawa kecil yang berarti bisa jadi.

Dalam pemahamannya dahulu , saya lahir dari peradaban  pemuja kemewahan,kesenangan, prestice, hura-hura , materialism, apatis, pragmatism dan budaya yang menjijikkan bagi ideologinya tapi para penganut tersebut justru menganggap ideologi dan budaya kekasih saya yang menjijikkan, kolot, primitif, dan ketinggalan zaman. Dia lantas bertanya lagi, yang pertanyaannya menyentak hati saya “jadi, jika dahulu kakak tidak memiliki kesadaran dan pengetahuan pasti kakak tidak memilih saya”.  Dengan tegas saya menjawab “iya, pasti”

Karena saya tidak sadar maka saya pasti memilih perempuan yang tidak sadar juga. Konsepsi atau Kriteria perempuan ideal saya dibentuk sedemikian rupa oleh kekuatan Modal dan Media Massa. Kebanyakan perempuan sekarang Tidak sadar kalau dia bergerak bukan karena kesadarannya , ia bergerak secara linear saja, hanya mengadopsi realitas yang ada diluar dirinya. Segala bentuk kehidupan yang lagi mapan dilumatnya tanpa filteralisasi lagi. Keinginan untuk berbody langsing , kulit putih mulus, memakai baju ketat, celana ketat, jual paha, seksi ,gadget ,Android, mobil  dan segala bentuk citraan lainnya menjadi kebutuhan perempuan kini. Menurut Lacan keinginan akan pencitraan itu yang kemudian menjadi kebutuhan diproduksi oleh mesin-mesin hasrat manusia.

Yang dipentingkan perempuan adalah bagaimana dia bisa disanjung atau menjadi bahan gosip oleh lelaki, bagaimana ia bisa menjadi artis idolanya, atau bagaimana ia bisa bisa memakai produk-produk baru yang tentunya berkelas dan bermerek. MembeIi barang bukan karena fungsi tapi image/citra. Itulah hebatnya kapitalism tak hanya bersemayam di produksi tapi juga dikonsumsi, dengan ganas melindas kebutuhan untuk dijadikan keinginan dan makhluk itu tentunya tidak mengenal usia, pekerjaan, dan jenis kelamin. Pria seperti saya yang juga termakan rayuan iklan dan sinetron kurang lebih sama dengan perempuan.

Kekasihku melenyapkan khayalanku lagi dengan sebuah pertanyaan “Jadi, sama siapa saya harus berterima kasih sehingga kakak bisa menjadi seperti ini atau karena kesadaran dan pengetahuan tersebut sehingga kita bisa berdua ditempat ini ?”

Tuhan memiliki banyak cara untuk “membagunkan umatnya dari tidur” yang pasti kesadaran dan pengetahuan itu tidak didapatkan seperti  membuat dan memakan mie instan yang sudah jarang kita konsumsi itu (Mungkin omzet penjualan indomie mengalami penurunan setelah kami memutuskan untuk tidak sering mengkomsumsinya) sama halnya ketika Tuhan mempertemukan kita, Dia punya cara sendiri. Selain kepada Tuhan jika ingin berterima kasih , berterima kasilah pada lembaga kemahasiswaan yang senantiasa mengajak warganya untuk terus berproses, belajar, berkhidmat dan menyembah nilai-nilai universal.

*
Nb: ada dua catatan penting pertama, yang manakah yang dimaksud dengan perempuan kolot,primitive dan ketinggalan zaman, apakah perempuan yang memamerkan bentuk lekukan tubuhnya  dengan casing style/mode atau perempuan yang menutupi auratnya tanpa terlihat bentuk tubuhnya (karena ada juga yang memakai jilbab tapi ketat dan penuh gaya, kadang tidak bisa dibedakan ini pakai jilbab atau lagi akupuntur)?. Apakah perempuan yang lebih memperhatikan dan merawat tubuhnya ketimbang jiwa dan akalnya?Kedua, kepada saudara kami yang menganggap kami intoleran berasmara . Siapa sebenarnya intoleran , jangan – jangan anda yang intoleran dalam kesendirian.!!!

14m 10022014

Jumat, 05 Juli 2013

Semut Biru Makassar

Jembatan layang (fly over) merupakan tempat yang tepat jika ingin meIihat semut biru ini dari atas, mereka seperti semut yang berkelompok, berbaris dan berkerumun. Aku lupa nama artis yang memberikan label itu terhadap kendaraan andalan masyarakat kota Makassar ini, aku cuma pernah dengar dari kawan yang ia juga dapatkan pernyataan dari seorang artis itu ketika berkunjung ke Makassar. Walaupun salah satu penyebab kemacetan dijalan raya, pete’-pete’ tetap menjadi primadona khususnya bagi kelas menengah kebawah, termasuk aku. 

Di pete’ – pete’ aku lebih menyukai duduk dibarisan belakang sopir. Kau tahu kenapa ?.Pertama, posisi duduk di belakang sopir membuat kita berhadapan atau memandang keluar pinggir jalan dengan objek beraneka ragam seperti trotoar, pohon, penjual, anak kecil yang berlari, gubuk kecil di samping bangunan tinggi, gadis yang menunggu seseorang, serta aktivitas masyarakat lainnya. Berbeda jika memilih tempat duduk sebelah yang ada hanyalah mobil, motor dan becak motor. Monoton dan sangat membosankan. Kedua, karena posisi duduk tersebut membawa masa kanak-kanak aku yang menyukai objek berjalan/bergerak di luar mobil padahal mobil yang bergerak, hal ini aku ketahui ketika duduk dibangku kelas nol. Sangat mengagumkan melihat pohon bergerak meninggalkan kita.

Jangan sekali – kali menyukai melihat kebelakang mobil karena kau akan melihat muka masam pengemudi ketika pete’-pete’ akan berhenti secara tiba-tiba tanpa penanda. Satu lagi kebiaasaan sopir pete’-pete’, ia akan mengurangi kecepatan dan berhenti jika bertemu dengan lorong begitu pula jika mendapati orang yang berdiri di pinggir jalan (walaupun orang itu tidak bermaksud menunggu pete’-pete’). Bukan cuma sopir, calon penumpang juga punya kebiasaan buruk, ketika ditanya sama sopir dengan satu kata tanpa kata/kalimat pertanyaan tapi hanya menyebut tempat. SENTRAL*? Dia menjawab tanpa ekspresi, tanpa tanda,tanpa jawaban dan membuang wajahnya ke arah lain.

* Di Makassar, dalam dunia transportasi sentral berarti pasar sentral atau pusat perbelanjaan terbesar dan rata-rata pete’-pete’ melewati jalur ini. 

(Kamis Malam 04072013, Ditulis dalam perjalanan dari tamalanrea menuju toddopuli dengan penumpang tiga orang)

Rabu, 26 Juni 2013

Jebakan Gramedia dan Es Cream

liputan bisnis.com
Hari ini pertama kali saya pergi ke mall yang terletak tak jauh dari rumah baca philosophia . Maksudnya , pertama kali pergi berdua dengan perempuan. Itu pun karena istri saya mempunyai kegiatan di tempatnya ia ‘berbagi’, ia tak senang dengan kata ‘bekerja’ atau ‘mengajar’ makanya ia ganti dengan kata berbagi. Hal ini saya ketahui ketika kami berada pada fase ‘berkomunikasi’ sebelum menuju maghligai pernikahan. Ia berbagi di salah satu lembaga bimbingan belajar terbesar di Indonesia Timur. Ia sangat patuh terhadap lembaga itu karena jika terlambat datang diacara tersebut akan dipotong gaji seratus ribu, begitu katanya.

Kami tak lupa mengunjungi Om Gramed , hanya satu tujuan kami kesana membeli buku yang paling diminati umat muslim. Buku istimewa ini akan kami jadikan kado pernikahan untuk sahabat saya yang telah menikah 10 hari yang lalu. Baru kami sempat membelikan kado karena baru ada rezeki lagi. Memang, kami baru belajar menata cash flow keluarga kami dan permasalahan yang kami alami adalah sama-sama mempunyai sensitifitas sosial yang tinggi sehingga sangat mudah dana mengalir ,konsukwensinya selalu hampir defisit.

Om Gramed memang punya magnet yang luar biasa tapi saya tetap konsisten untuk fokus pada tujuan dan berusaha tidak melirik kekiri ataupun kekanan demi menyambung hidup (seolah ada malaikat di samping kanan membisikkan “kondisi keuangan kamu terbatas dan INGAT ‘kau sudah tidak bujang lagi’”. 

Tapi bukan namanya corporation jika tak mempunyai strategi besar, Om Gramed berusaha menjebakku dengan skema yang sangat sistematis, pertama, memasang novel rantau 1 warna trilogi ahmad fuadi di dekat kasir (ia tahu jika saya belum meniduri buku tersebut) .kedua, sengaja menyediakan tempat transaksi yang terbatas sehingga pengunjung antri untuk membayar sehingga saya mau tidak mau mencari aktivitas untuk menunggu antrian, parahnya handphone saya kehabisan energi. Saya pun tergoda untuk membaca buku “rantau 1 muara” tapi hanya bagian belakangnya saja dan ternyata kalimat akhir dari sinopsis buku itu “ Rantau 1 Muara bercerita tentang konsistensi untuk terus berkayuh menuju tujuan…. ” mantranya kali ini “man saara ala darbi washala” (siapa yang berjalan di jalannya akan sampai di tujuan). Saya pun meletakkan buku itu di tempatnya semula dan sesuai dengan hikmah dari buku itu konsistensi untuk terus berkayuh menuju tujuan. Saya senyum senyum sendiri, hampir saja masuk dalam perangkapnya. Kali ini Om Gramed gagal dan seharusnya segera mengevaluasi tim Marketingnya karena memasang perangkap sekaligus panduan untuk terlepas dari perangkap.

 Istriku menunggu di dekat pintu dan kami bergegas keluar. Ia hendak mampir ditempat komunitas SLANKERS Makassar yang tak jauh dari rumah Om Gramed, ia memperkenalkanku dengan Bang Gaffar ketua SLANKERS Makassar,Bang Gaffar beserta istrinya menyambut kami dengan ramah.Mereka menjual pernak –pernik mengenai SLANK disana. Memang sebelum mengenal istri saya, ia sudah lama aktif di komunitas tersebut. Kami hanya sebentar disana, memilih untuk pulang agar tidak di cap lagi “tawaf”. 

Beberapa tahun lalu (sebelum mengenal ‘buku’ dan ‘diskusi’) ,Di lorong mall ini saya pernah iri melihat pasangan se usia saya yang pacaran bergandeng tangan menelusuri sudut sudut modernitas dan bergumam kapan saya bisa seperti mereka? . Istri ku mengaburkan Lamunan dengan mengandeng tangan kanan saya, ia ternyata membaca lamunan itu. Perlahan saya lepaskan tangannya sambil mengingatkannya untuk menjaga “toleransi berasmara” dan setahu kami walaupun sudah halal sebaiknya tidak mengumbarkan kemesraan.
brendacynthiaa.blogspot.com
Kami melewati beberapa toko yang memajang jajanannya.sebelum sampai pintu keluar saya memberitahukan ke istri saya jika di dekat pintu sana ada mahasiswa saya menjual es cream. Istriku menanggapinya dengan sangat positif dan dia ingin dibelikan . Saya pun mengiyakan dengan asumsi membantu mahasiswa tersebut agar jualannya laku dan harganya seperti es cream pada umumnya. Ketika sampai di tempat es cream, penjual itu kaget dan keluar dari tempatnya untuk menyalami saya. Ini istri saya mau beli es cream, Tanyaku. Iya pak, silahkan dilihat menunya (sambil menunjuk keatas) mau rasa apa, jawabnya. Kami berdua sempat terdiam dan terbelalak melihat harga yang tertulis. Saya memilih satu sekrup dengan harga yang terendah diantara yang tertera.Itu pun , harganya bisa dapat satu buah buku atau tiga kali makan untuk kami berdua.Walaupun penjual itu menambah satu sekrup free (mungkin termasuk gratifikasi ya..) tapi tetap mengacaukan tata kelola keuangan kami.

Saya meminta dua sendoknya yang berukuran seperti jari kelingking, berterima kasih dan secepat meninggalkan tempat itu untuk menumpahkan tawa yang sedari tadi tertumpuk.

Hidup ini memang lucu dan indah.

(maaf, belum sempat diedit. Karena editornya masih sibuk jadi tata bahasanya, penulisan, dll masih kacau2)
Fitri’am 16062013

Selasa, 18 Juni 2013

KATA PENGANTAR BUKU "BAHWA DIA ADALAH CINTA"

Kata Pengantar, 

Puji atas Allah SWT yang meneteskan Cinta-Nya kepada semesta dan shalawat kepada Baginda Muhammad SAW yang senantiasa menda’wahkan cinta. “Bahwa Dia adalah Cinta” merupakan buku dadakan yang diniatkan dari awal untuk dijadikan undangan dan mempunyai tiga bagian,Pertama, cerita fiksi tentang proses komunikasi kami.kedua, kumpulan sajak yang tak bermutu dari saya(i’am), dikatakan tak bermutu karena baru beberapa tahun terakhir saya belajar tentang sajak, proses belajar ini saya tuangkan di setiap peristiwa yang saya alami ketika berkomunikasi dengan fitri ditambah dengan kumpulan tulisan selama mengenyam kehidupan kampus. Ketiga, kumpulan sajak dari fitri beberapa tahun yang lalu sebelum mengenal saya. satu diantara sekian banyak yang membuat saya kagum adalah sajak-sajaknya. Kualitas tulisannya jauh dari tulisan saya.

Terakhir kami ucapkan banyak terima kasih kepada semua pengarang-pengarang yang bukunya berada di Rumah baca Philosophia , Semua Blog /web yang sering kami kunjungi terkhusus hurufkecil.net dan timur-angin.com, Keluarga besar Philosophia Institute, Sobat Rumah Baca Philosophia, Kak Asrul yang rela begadang (sampai-sampai tak masuk kantor) menyempurnakan buku ini, Kak Zul ditengah kesibukannya meminang perempuan pejuang masih menyempatkan waktu mengurus cetakannya. Semua komunitas/organisasi/sahabat/teman/kakak/adik/saudara(i) yang memberikan doa restu kepada kami.