Daftar Blog Inspirasi

Sabtu, 28 Mei 2016

Tali Pernikahan

Sepasang burung yang berkicau yang saling memadu kasih adalah pemandangan yang saya sukai apalagi ketika ia bertengger dipohon yang rimbun. Pemandangan ini menunjukkan bahwa jangankan manusia, binatang dan tumbuhan pun memiliki naluri untuk bereksistensi. Sangat patut disyukuri Pemilik Cinta menganugerahkan cinta kepada makhluknya.Karena cinta dan demi cinta langit dan bumi diciptakan dan atas dasarnya makhluk diwujudkan.

Demi Cinta seluruh planet beredar dan dengannya pula gerak mencapai tujuannya. Dengan Cinta semua jiwa meraih harapannya serta terbebaskan dari segala yang meresahkannya.

Saudaraku, sudah beberapa hari proses sakral (akad nikah) dan peristiwa bersejarah kalian hadapi. Manusia dan  semesta raya yang diwujudkan karena cinta telah bertasbih dan menjadi saksi prosesi sakral tersebut. Dan biasanya sesuatu yang sakral  terdapat berkah. Dalam tradisi di kampung kita keberkahan itulah yang memantik orang untuk berdatangan. Baik bagi orang yang merasakan kesepian yang tak berujung (dalam istilah budaya populer disebut  Jomblo), maupun bagi orang yang telah memiliki pendamping untuk mengarungi derasnya gelombang kehidupan .

Sebelum menikah, saya rajin mengikuti acara sakral-akad nikah. Untuk apa? Tentu saja untuk mendapatkan berkah dan do’a dari majelis tersebut. Tempat-tempat seperti itulah yang dapat membantu mengangkat  do’a-do’a  saya. Setelah menikah, saya pun berusaha untuk hadir. Untuk apa? untuk memperoleh pengetahuan dari ceramah-ceramah pernikahan, selain itu, juga sebagai alat kontemplasi bahtera rumah tangga saya atau proses pengingatan kembali–bukan konsep plato–bahwa saya pernah berjanji untuk mengikrarkan hidup saya secara totalitas kepada seorang perempuan. Karena saya tahu tantangan dan derasnya gelombang godaan di dunia yang semu nan sesak ini semakin gila, makanya saya membutuhkan amunisi dan do’a menghadapi  kegilaan tersebut.

Saudara-saudaraku….
Ada beberapa hal yang perlu saya sampaikan. Pertama, perbedaan cinta sebelum dan sesudah pernikahan. Sebelum pernikahan biasanya sang pasangan masih tertutup, ragu-ragu membuka hal yang sangat pribadi sehingga yang muncul hanyalah kepura-puraan. Ada juga pasangan, alasan takut ditinggalkan, kebanyakan menunjukkan kepribadian yang baik-baik saja, atau berusaha berbuat baik di mata  kekasihnya, padahal sejatinya tidak demikian. Makanya cinta sebelum pernikahan itu disebut juga cinta imitasi, KW alias palsu. Berbeda setelah pernikahan, semuanya terbuka, dalam istilah Al-Quran disebut afdha atau keterbukaan angkasa raya. Tidak ada lagi yang ditutupi, semua kelemahan kedua pihak terbuka dan di sinilah terjadi kesadaran totalitas. Cinta sebelum pernikahan tidak jarang hanya berbentuk emosi tanpa kesadaran, karena itu sangat rawan putus. Berbeda dengan pernikahan, ia akan melewati akad yang secara maknawi ialah ikatan baik secara lahir maupun batin. Dalam istilah Al-Qur’an disebut mitsaqan ghaliza atau ikatan yang sangat tebal/kasar, bukan berarti terikat maka tidak bebas, justru pernikahan membuat kita bebas, akan tetapi bebas yang bertanggung jawab.

Ada tiga tali temali dalam ikatan pernikahan ini, pertama, disebut sebagai mawaddah yang berarti kelapangan dada dan kekosongan jiwa dari kehendak buruk. Orang yang memiliki mawaddah, pintu-pintunya telah tertutup untuk dihinggapi keburukan lahir dan batin yang mungkin datang dari pasangannya. Olehnya itu, tidak semua orang yang telah menikah otomatis memiliki mawaddah, tali mawaddah harus direbut bersama dengan penuh perjuangan.

Kedua, rahmah yaitu kondisi psikologis yang muncul dalam hati akibat menyaksikan ketidakberdayaan pada pasangan kita sehingga mendorong kita untuk melakukan pemberdayaan. Misalnya ketika suami  sakit, ia tidak berdaya, pada saat itulah muncul dorongan untuk merawat suami.

Temali yang terakhir adalah amanah, ia adalah segala hal yang diberikan kepada pihak lain disertai dengan rasa aman dari pemberinya karena adanya kepercayaan bahwa apa yang diamanatkan itu akan dipelihara dengan baik. Para orang tua merestui pernikahan karena mereka percaya bahwa anaknya akan aman dengan sang suaminya kelak. Demikian juga sebaliknya, karena bukan hanya seorang istri yang membutuhkan amanah itu.

Ketiga ikatan ini akan terpelihara jika kedua pasangan selalu mengingat Allah SWT dan melaksanakan tuntutan agama. Jika mawaddah dan rahmah telah menghiasi jiwa pasangan suami-istri dan juga terpelihara amanah yang mereka dapatkan, maka fondasi rumah tangga akan kian kukuh dan sendi-sendinya akan semakin tegar.

Jangan anda berpikir bahwa apa yang saya sampaikan ini sudah barang tentu saya miliki. Tidak! Saya juga sementara berjuang merebut ketiga “tali”, tidak tertutup kemungkinan kalian yang lebih dulu meraihnya. Tulisan ini sebenarnya lebih banyak ditujukan kepada saya, yang masih jauh dari cahaya-Nya.

Cinta sejati dan kesetiaan diukur ketika pernikahan itu ada, bahkan setelah pasangan meninggal. Menurut saya, kisah cinta kalian lebih romantis dan puitis ketimbang kisah Romeo-Juliet, atau Layla-Majnun, Zainuddin-Hayati. Jika ingin mencari panutan, ikutilah  apa yang dipraktekkan oleh Rasulullah SAW terhadap Khadijah yang terlebih dahulu meninggalkannya. Bahkan setelah meninggal pun Rasulullah SAW masih selalu mengingat dan menangisi kisahnya, inilah Puncak Cinta. Untuk istri yang ingin di kenang, seperti Nabi mengenang Khadijah, sangatlah patut untuk belajar menjadi Khadijah dalam rumah tangganya.

Kepada saudara-saudara saya yang “masih betah” menyendiri. Pesan saya, dalam memilih pasangan kurangilah kriteria-kriteria yang masih bernafaskan materi. Materi perlu tapi ia bukanlah hakikat. Ada pesan dari guru saya, “Jangan tanya akal Anda tentang wanita yang hendak anda jadikan pendamping. Pastilah akal akan menunjukkan kekurangannya dan ketika itu anda dapat mengurungkan rencana. Akan tetapi tanyailah hati. Jika ia menjawab positif walau tak bulat maka tugaskan akal mencari pembenarannya.”



1-25 Mei 2016
(Tulisan ini diperuntukkan kpd saudara2 sy yg telah "menyempurna" maupun yg segera. Terutama yg tdk sy hadiri. Maaf, jika  tak bisa mewujud di pesta kalian. Tapi bukan berarti do'a dan rasa haru bahagia tak menyelimuti kami. Bahagia selalu..kawan)


tempo.co

0 komentar:

Posting Komentar