Daftar Blog Inspirasi

Senin, 12 Mei 2014

Istighfar Karena Bersyukur

Hari Rabu tanggal 7 Mei 2014 bertepatan dengan pelantikan Walikota Makassar, Pasar Sentral (Makassar Mall) kembali mengalami kejadian tragis, sijago merah kembali melahap seluruh bangunan pasar beserta isinya. Istilah sijago merah secara empiris bisa berarti api yang memiliki zat panas dan sifatnya membakar , kebakaran terjadi secara alami atau ketidak sengajaan. Makna yang kedua sijago merah yang berarti aktor/orang yang memiliki kepentingan dan sifatnya lebih berbahaya daripada api. Dengan sangat jago, rapi dan halus sengaja membakar pasar untuk kepentingan ekonomi/politik tertentu. Saya tidak punya kapasitas untuk menganalisis apalagi menyimpulkan kebakaran ini apakah sengaja atau ketidaksengajaan. Pastinya, sebagai manusia apalagi sudah merasakan sulitnya mencari uang halal tentunya sangat prihatin dan turut berduka atas musibah yang diberikan kepada para pedagang tersebut.

 Diluar persoalan di atas, kebakaran pasar ini mengingatkan saya kepada salah seorang tokoh Tarikat Sufi yang bernama Sirri Al-Siqthi. Ia pernah berkata “ Sudah tiga puluh tahun aku beristighfar hanya karena sekali aku bersyukur kepada Allah!”, mungkin anda bingung, termasuk yang saya alami dulu. Bagaimana bisa, kita memanjatkan pujian kepada Allah SWT tapi kita merasa bersalah atas pujian atau syukur tersebut sehingga kita harus bertobat dan perbanyak istighfar. Al Sithqi menjawab keheranan kita semua, ia berkata “ Saat itu aku mempunyai toko di pasar Baghdad. Suatu saat orang – orang mengabariku bahwa pasar Baghdad hangus dilalap api. Aku bergegas pergi untuk melihat apakah tokoku juga terbakar. Salah seorang mengabariku bahwa api tidak sampai membakar tokoku. Akupun berkata Alhamdulillah. Setelah itu jiwaku terusik, hatikupun berkata ‘Engkau tidak sendirian di dunia ini. Beberapa toko telah terbakar! Memang tokomu tidak terbakar, tapi toko-toko lainnya yang terbakar. Ucapan Alhamdulillah berarti aku bersyukur api tidak membakar tokoku, meski membakar toko yang lainnya! Berarti aku rela toko orang lain terbakar asalkan tokoku tidak’. 

Akupun berkata dalam diriku , Siiri’! tidakkah engkau memperhatikan urusan saudaramu kaum muslimin?’(merujuk pada hadis Rasulullah SAW yang berbunyi, ‘barang siapa yang melewatkan waktu paginya tanpa memperhatikan urusan kaum muslimin, maka tidaklah ia termasuk orang Islam.’ Saat ini sudah tiga puluh tahun saya beristighfar atas ucapan Alhamdulillah-ku.” 

Jika kita merenungkan cerita tersebut, perbuatan “kita” sangat jauh yang dicontohkan oleh Sirri Al-Siqthi. Jangankan mengucapkan Alhamdulillah, berbicara jorok/kotor pun “kita” tidak pernah beristigfar dan bertaubat. (Ampunilah Dosa hamba-Mu ini Ya Allah). Jiwa Sirri Al-Siqthi telah terusik, ia telah keluar dari lingkaran egonya menuju ego orang lain. Perlakuan seperti ini sering dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW Sebagaimana kisahnya ketika dilempari kotoran oleh orang kafir tapi ia tidak marah malah ia berbuat baik terhadap mereka.

Kisah keteladanan akhlak tertinggi juga bisa dilihat dari salah satu doa Imam As-Sajjad :
“Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluarganya.
Bimbinglah daku untuk melawan orang yang mengkhianatiku dengan ketulusan. 
Membalas orang yang mengabaikanku dengan kebajikan. 
Memberi orang yang bakhil kepadaku dengan pengorbanan. 
Menyambut orang yang memusuhiku dengan hubungan kasih sayang. 
Menentang orang yang menggunjingku dengan pujian. 
Untuk berterima kasih atas kebaikan dan menutup mata dari keburukan” 

Lahangnge, 10052014

0 komentar:

Posting Komentar