Daftar Blog Inspirasi

Selasa, 11 Juni 2013

Meresap Makna "Bulan Madu Di Kaki Gunung Bawakaraeng"

Tak ada yang berubah di kehidupan ‘philosophia’ selain keberadaannya yang menambah cahaya.
Aktivitas kami seperti biasa dan tak ada yang istimewa. Sudah saatnya kami menggangu aktivitas ini dengan berbulan madu. sekaligus merealisasikan salah satu kesepakatan pernikahan kami.

Bulan madu  tak mesti ke luar negeri atau di Bali yang membutuhkan biaya besar, toh di google tak ada definisi bahwa bulan madu adalah sepasang kekasih setelah menikah pergi ke luar negeri atau ke Bali,  ke Lombok atau tempat wisata lainnya. Begitu pula tak ada definisi mutlak mengenai bulan madu, juga sangat disayangkan kenapa bulan madu diidentikkan dengan “seks”. Biarlah  orang – orang di luar sana mendefinisikannya , kami punya cara sendiri menafsirkan bulan madu

Persis di kaki Gunung Bawakaraeng, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, lembah indah terbentang. Hijau, permadani hijau terhampar luas. Lembah itu bernama  Ramma. Butuh waktu minimal 4 jam untuk mencapai lembah ini dari pemukiman warga, melewati perbukitan dan beberapa sungai, tapi perjalanan harus kami lalui dengan delapan jam karena sebagian rombongan adalah pendaki pemula termasuk kami ,dan seorang kawan (identitas disembunyikan) ‘sakit’ karena lelah dalam perjalanan ditambah lagi dengan penglihatan yang terbatas karena kami berangkat pukul 01.00 malam.

Bagi pecinta gunung dan alam, (kami bedakan gunung dan alam karena alam tidak sama dengan gunung) mungkin Ramma bukanlah track yang menantang tapi bagi kami − yang baru belajar mendaki  gunung  adalah pengalaman yang bermakna. Sungguh  Tuhan Maha Pencipta, Maha Rendah Hati mengkhendaki kita memaknai Maha Karya-Nya nan Agung.

Perjalanan membawa kami  mengingat karya Dee: Akar. Petualangan bodhi  menemukan “kesejatian” dan terus mencari dari mana asalnya, dari manakah akarnya? hampir setengah perjalanan yang kami lewati dihabiskan berkenalan dengan akar karena  Kami sangat merasakan manfaat dari Akar pohon. Di daerah pegunungan selain berfungsi untuk menyokong dan memperkokoh berdirinya pohon , ia juga berfungsi untuk menahan tanah dan batu agar tak longsor. Tak hanya itu ,Akar inilah yang menjadi penolong kami agar tak jatuh ataupun tepeleset. Walaupun terus diinjak bahkan sampai rapuh mereka  membantu kami(pendaki) menelusuri,menapaki,mendaki dan memanjat untuk mencapai tujuan. Dulu kami memahami fungsi akar pohon hanya sebatas pengetahuan saja , kini kami merasakan dan meresapi langsung kegunaannya. Sama ketika kita cuma mengatakan “kita harus sabar” tapi ketika mendapatkan cobaan maka makna dari sabar itu kita bisa rasakan langsung dan berbeda pemaknaannya tanpa adanya cobaan.  Tanpa akar pohon akan mati karena tak ada yang  mengangkut air dan zat-zat makanan yang ada dalam tanah, Tanpa akar kami akan mati karena tak ada yang mengangkut jiwa – jiwa yang pongah ini.

Perjalanan semakin menantang karena langit malam menjatuhkan bulir-bulir air. Hujan yang tak henti seolah mengikis watak keras kepala kami dengan kelembutan, seperti batu yang keras  dijatuhi air berulang ulang . Kondisi ini diperkuat oleh hadirnya  Dingin yang menandakan simbol meredam api amarah selama kita hidup dikota , semakin dingin maka semakin kita memaknai bahwa kita sering meluapkan amarah.

Ada lima aliran  sungai kecil  yang kami lalui  untuk mencapai ramma, disetiap sungai itulah kami membasahi kerongkonan yang sedari tadi kering. Aliran sungai yang kami jumpai pastinya tak lurus memanjang ,ia seperti ular yang berbelok belok  , tentunya punya maksud agar bisa  bermanfaat bagi stakeholder alam sekitar seperti burung , sapi,anjing,tumbuhan, terutama  manusia.Pertanyaannya , Apakah kita juga bermanfaat bagi penghuni alam ?. Kebeningan dan kejernihan air  di perjalanan ini  mengajarkan kami untuk  menejernihkan  hati dan pikiran kita, (kebohongan,keangkuhan, kesombongan,keegoan) begitupula dengan salah satu pesan Imam Syafii “Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan jika mengalir menjadi jernih , jika tidak, kan keruh mengenang” yang berpesan bahwa ilmu yang dimiliki seharusnya dialiri ke orang lain agar tak keruh dan rusak. Aliran-aliran air kecil bergabung menjadi anak sungai dan akhirnya menjadi sungai ini menggambarkan bahwa kelompok-kelompok kecil akan menjadi kuat bila bersatu. Manusia sebagai makhluk sosial tentunya perlu saling membantu. Air mengalir dari atas gunung ke bawah mengajarkan kami bahwa kelak ketika kita berada diatas atau menjadi pemimpin kita harus mendatangi orang dibawah atau turun langsung ke bawahan, bukan bawahan yang mendatangi pemimpin. Begitu pula dengan pemimpin pemerintahan, bukan rakyat yang mendatangi pemimpin tapi pemimpinlah yang mendatangi rakyatinya. Mungkin Filosofi inilah yang digunakan oleh Jokowi.

Matahari akan segera muncul tapi kami belum menemukan sungai untuk berwudhu dan  membersihkan kotoran yang daritadi menempel dibadan dan pakaian yang kami kenakan.   Akhirnya kami meneruskan perjalanan, terlihat juga banyak  daun kotor penuh debu dan tanah ,embun datang menyeka dan menyegarkan daun-daun tersebut.

Di bawah pohon –pohon terdapat banyak daun yang berguguran yang juga  mengingat sebuah judul buku “Daun yang jatuh tak pernah membenci angin” karya tereliye. Daun yang berguguran karena goyangan angin tak pernah membenci mangin begitupun tak membenci tangkainya yang tak memegang erat dirinya. Ia sadar, syarat – syarat untuk berguguran sudah terpenuhi, tubuhnya sudah lemah dan  umurnya sudah tua. Ia tidak menyalahkan siapapun karena sadar akan kondisinya,berbeda dengan kita yang tak melihat secara bijak kondisi dan kemampuan kita , ketika jatuh , gagal dan kalah kerapkali menyalahkan orang lain, nasib, sistem, bahkan Tuhan. Daun pun gugur tidak meninggalkan masalah atau tidak menjadi pengganggu bagi ekosistem kehidupan  namun menjadi sumber bagi tumbuhnya daun-daun baru yakni menjadi pupuk kompos,  Daun yang gugur  menutup akhir hayatnya  dengan memberikan kebermanfaatan yang sangat luas. Ketika kelak kita akan meninggal, apakah kita akan meninggalkan masalah buat keluarga, teman, dan  semesta atau seperti daun yang memberikan manfaat kepada manusia dan alam.

Dalam pendakian ini karakter sesungguhnya manusia terbaca, karena banyaknya cobaan , lelah, hujan, angin dll apakah teman mau membantu kita ketika sakit atau terjatuh, mau menemani kita untuk beristirahat dan tidak meninggalkan kita. Kami  melihat sesama pendaki saling membantu dan tolong menolong seperti yang dialami oleh salah seorang rombongan kami pada saat perjalanan pulang ,yang tak kuat membawa tasnya dan pendaki lainnya menolong membawakan tasnya begitu juga semangat berbagi makanan ketika berada disana. Muncul dalam benak kami, apakah  nilai nilai ini (saling membantu, tolong menolong dan berbagi) hanya berlaku di tempat ini saja, kenapa sangat jarang kami melihat pendaki – pendaki atau mahasiswa pecinta alam yang kami temui di kota Makassar tak seperti ketika berada di gunung atau alam , nilai – nilai itu seolah sirna. Entahlah !  mungkin Kota bukan bagian dari alam.

Semua yang pernah ke Ramma’ atau Gunung Bawakaraeng tak asing dengan  binatang kecil ini

Pacet Ramma


Pacet sejenis dengan Lintah ,binatang yang doyan darah berukuran sebatang lidih dengan panjang kira-kira 3cm – 8cm. Jika tidak berhati – hati maka bisa dipastikan akan menempel dibagian tubuh kita. Seperti yang kami alami pada saat berada dipinggir sungai. Walaupun menghisap darah kita sedikit tapi Pacet mengajarkan kita untuk berbagi darah, menyadarkan kita bahwa banyak semesta yang membutuhkan darah seiring banyaknya pertumpahan darah antar  manusia, menghisap darah kotor kita , apakah betul makanan yang kita konsumsi mengalir ketubuh kita adalah halal atau .memang hak kita , lintah menghisap darah – darah kotor itu dan sepulang dari hutan ini darah kita akan menjadi bersih.

Puncak Talung

            Kabut dan awan membatasi jarak pandang kita  untuk melihat puncak gunung dan awan membatasi penglihatan kita melihat isi langit. Mungkin sampai saat ini kita  masih belum menemukan hakikat kemanusiaan kita , jati diri kita, hakikat kehidupan karena masih banyaknya dosa – dosa  kecil yang berkumpul dan melayang – layang menyelimuti “hakikat” yang kita cari, sebagaimana kabut  yang merupakan kumpulan tetes-tetes air yang sangat kecil yang melayang-layang di udara menghalangi penglihatan kita untuk mencapai puncak gunung.      Tak mudah untuk mencapai tujuan (Puncak  Gunung/Talung), butuh keringat, butuh jatuh, butuh tenaga, butuh beban, butuh kerjasama, butuh manajemen,banyak terpaan angin, terpaan hujan . Semakin tinggi gunung semakin berat ujiannya dan semakin tinggi dakian semakin dekat dengan Tuhan.


Lembah Ramma

Dari talung kita meneruskan perjalanan kebawah lembah ramma untuk mendirikan tenda dan ternyata tracknya menguji nyali. Lembah Ramma mengajarkan bahwa pembelajar yang tawaddu adalah ia yang paling banyak ilmunya, sebagaimana lembah yang rendah adalah lembah yg paling banyak airnya.
Pada malam hari  kita menikmati bulan begitu dekat sambil meminum madu. Kita menikmati alam(bulan madu) agar kita lebih dekat dengan Tuhan. Begitulah kita menafsirkan bulan madu, walaupun bulan hanya nampak sebentar saat itu.
Perjalanan naik dan turun gunung mengingatkan kami dan berusaha merefleksikan empat perjalanan manusia menurut mullashadra (Al-Hikmah al-Muta’āliyyah.) sebagai sebuah bagian perjalanan ruhani yang harus dilewati oleh setiap manusia yang hendak menggapai kesempurnaan.
Perjalanan pertama ; Safār min al-Khalq ila al-Haq (Perjalanan dari makhluk menuju Tuhan).
Perjalanan kedua : Safār bi al-Haq fi al-Haq (Perjalanan bersama Tuhan di dalam Tuhan).
Perjalanan ketiga ; Safār min al-Haq ila al-Khalq bi al-Haq (Perjalanan dari Tuhan menuju Makhluk bersama Tuhan).
Perjalanan keempat ; Safār min al-Khalq ila al-Khalq bi al-Haq (Perjalanan dari makhluk menuju makhluk bersama Tuhan).
Jika ada perjalanan nol mungkin kami berada pada tingkatan tersebut.

* Manusia,sungai, Akar, batu, berbagi, membantu, tujuannya hanya satu : Menyatu.
* Kami berhipotesis bahwa semakin sering manusia ke gunung/ bersentuhan dengan alam maka manusia itu semestinya semakin dekat dengan Tuhan pencipta Alam.
* Mungkin banyak pendaki yang menaklukkan  gunung-gunung tinggi  tapi jiwanya sendiri ia tak bisa taklukkan.

Terima kasih buat Tata Mandong yang terus menjaga keindahan ramma & bawakaraeng.
Terima kasih buat crew philosophia. (Nufaj,Mamet,Oka,Afif,Chali,Darsam,Idil & Mamad, "'maaf ,fotonya belum sy dapatkan jadi tdk ditampilkan"')    
Bahwa Ramma adalah Cinta.

1 komentar: