Daftar Blog Inspirasi

Rabu, 30 Desember 2009

Sebuah Renungan Untuk Infotainment.


Setelah Luna Maya curhat di situs jejaring social twitter dan mendapat “serangan” dari pekerja infotaiment yang saat ini menjadi sorotan publik menjadi senjata makan tuah terhadap pekerja infotaiment , bagaimana tidak dengan bermaksud meperadilankan luna maya malah mendapat perlawanan dari berbagai kelompok dengan membalikkan isu bahwa tanyangan infotaiment sebagian besar ghibah,gossip, gunjingan ,dan maasalah privasi seseorang y. Jauh sebelum kasus luna maya , isu ini sudah pernah terangkat namun tidak terlalu seheboh saat ini bahkan salah satu organisasi terbesar di Indonesia Nahdalatul Ulama sudah mengeluarkan fatwa bahwa HARAM infotaiment pada saat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar NU di Surabaya akhir Juli 2006 lalu.

Ada sebuah riwayat : Suatu hari di zaman Nabi, seorang sahabat bertanya, "Ya Rasulallah, apakah yang disebut dengan ghibah?" Rasulullah saw menjawab, "Ghibah adalah menceritakan keburukan orang lain di belakang dia." Sahabat itu bertanya lagi, "Bagaimana bila keburukan itu memang terdapat pada dirinya?" Rasulullah menjawab, "Itulah yang disebut dengan ghibah." "Lalu bagaimana bila keburukan itu tidak terdapat pada dirinya?" "Hal itu disebut dengan buhtân atau fitnah. Dosanya lebih besar daripada ghibah," jawab Rasulullah. Banyak hadits yang menyinggung tentang ghibah, Rasulullah pernah bercerita: Di Hari Kiamat nanti, ada orang yang dihempaskan di Pengadilan Allah. Kemudian diberikan kepadanya seluruh kitab catatan amalnya di dunia. Namun di dalamnya ia tak melihat satu kebaikan pun. Ia berkata, "Tuhanku, ini bukan kitabku karena aku tak melihat di situ ketaatanku." Tuhan menjawab, "Tuhanmu tidak pernah salah dan tidak pernah lupa. Seluruh amalmu hilang karena pergunjinganmu kepada orang banyak." Sementara ada seseorang lagi yang diberikan kitab catatan kebaikannya di dunia. Ia terkejut karena melihat di dalamnya ketaatan yang amat banyak; salat, shaum, dan haji yang tak pernah ia lakukan. Ia berkata, "Tuhanku ini bukan kitabku karena aku tak mengamalkan seluruh ketaatan ini." Tuhan menjawab, "Karena si Fulan pernah mempergunjingkanmu, maka seluruh kebaikannya dipindahkan ke dalam catatan amalmu."

Menurut KH. Jalaluddin Rakhmat orang suka berghibah karena beberapa alasan:
• Al-Ghadhab atau kemarahan >> Jika seseorang marah, jengkel dan tidak suka terhadap orang lain maka sangat mudah menceritakan keburukan orang yang tidak disuka tersebut.
• Al-Hiqd atau dendam >> Dendam adalah kemarahan yang disimpan dalam hati untuk suatu saat kita keluarkan untuk memukul balik orang yang kita marahi. Jadi ghibah sebagai alat psikologis untuk membalas dendam.
• Kedengkian >> Bila kita dengki terhadap orang lain, akan mudah bagi kita untuk menceritakan keburukan orang itu.
• Untuk bermain-main >> Manusia adalah makhluk yang senang untuk mempermainkan orang lain. Tuhan berfirman: Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan permainan. (QS. Al-Ankabut; 64) Permainan itu ada yang mendatangkan murka Allah maupun ridha Allah. Ghibah adalah permainan yang menyebabkan murka Allah swt.
• irâdatul iftikhâr wal mubâhah>> keinginan untuk menaikkan harga diri Karena itu, kita senang mempergunjingkan orang-orang yang terhormat. Dengan itu kita seakan-akan berkata bahwa orang terhormat itu masih jauh lebih rendah dari diri kita karena keburukan-keburukan mereka.

Bisa saja Kita menggosip artis si Becce misalnya karena kita marah ,dengki ,dendam terhadap dia karena melukai perasaan si Aco yang kita jadikan sebagai idola/tokoh kita atau hanya sekedar permainan , alat ngerumpi ditengah kekosongan aktifitas kita berkumpul bersama tetangga, teman, dan orang – orang yang kita jumpai.
 
Tetapi alasan TV untuk menayangkan berita ghibah tersebut bukan karena kemarahan, dendam, dengki,bermain-main dan menaikkan harga diri ( secara individu) tapi murni karena profit yang ingin dicapai tanpa melihat implikasi social yang didapat oleh masyarakat. Semakin seru( masalah pribadi ) pertikaian dan perceraian keluarga artis akan smakin banyak orang yang menonton maka semakin banyak pula perusahaan yang beriklan dengan bayaran tinggi kepada acara tayangan gosip tersebut. Semua alasan berghibah tersebut diangkat ,diprtontonkan, disajikan dan dijadikan berita untuk dikonsumsin oleh masyarakat agar kita juga berghibah . Sebenarnya kita tidak mau berghibah tapi karena kekuatan media yang menghipnotis kita dan mempengaruhi alam bawah sadar kita untuk menceritakan masalah kehidupan artis,tokoh ,idola, panutan (sebagian masyarakat) kepada teman, keluarga dan orang – orang yang kita jumpai.

Jika ada 10 tv swasta yg mengudara di Indonesia rata –rata semuanya menampilkan 3 kali dalam 24 jam dalam waktu minimal 30 – 60 menit dengan asumsi setengahnya adalah iklan dan 65% isi dari tayangan infotaiment tersebut adalah ghibah berarti dalam 30 menit tersebut ada sekitar kira –kira 18 menit membahas ghibah jadi 10*3*18= 540 menit kita disajikan dalam 24 jam tayangan yang dilarang oleh agama baik dgn waktu yg bersamaan atu berbeda.

Menurut Effendy Ghozali salah seorang pakar ilmu komunikasi menilai, karakter infotainment di Indonesia adalah over explosive, over simplified dan over claim. Over explosive karena tayangan infotainment sudah terlalu banyak, semua stasiun televisi di Indonesia memiliki program acara serupa. Akibatnya, infotainment justru menjadi sarana sinisme bukannya menjadi media informasi yang mencerdaskan masyarakat. Sementara over simplified, ditunjukkan dengan cara kerja para jurnalis infotainment yang terlalu mudah menyederhanakan dan menyimpulkan sebuah persoalan. “Ketika seorang artis ditemui sedang berjalan dengan orang lain, langsung saja disimpulkan selingkuh atau sedang ada affair. Intinya mengada-ada. Sedangkan over claim, media infotainment selalu mengklaim demi kepentingan publik. seolah-olah publik harus mengetahui segala sesuatu yang terjadi pada artis. “Perceraian seorang artis dengan pasangannya diklaim bahwa hal itu sangat dibutuhkan masyarakat,” katanya. Dikatakannya, jika hingga saat ini sasaran dari pada berita infotainment masih berkisar pada kehidupan pribadi selebritis, maka tidak akan lama lagi akan berkembang pada kehidupan tokoh lain, misalnya tokoh politik. “Kita lihat saja minggu-minggu ini sejumlah infotainment sedang memberitakan kehidupan pribadi salah seorang tokoh politik dari PAN (Partai Amanat Nasional). Ini artinya, nanti gosip infotainment itu tidak lagi didominasi selebritis,” katanya.(Syirah,11/08;Metro TV)

Marilah kita bersama – sama menonton tayangan yang mendidik pikiran kita agar kita terhindar dari kegiatan yang dibenci oleh Allah SWT sesuai sabda Rasulullah "Bila seseorang yang berghibah bertaubat, Allah tidak akan mengampuninya sampai orang yang dighibahkan itu melepaskannya." Maksudnya, taubat orang yang bergunjing tidak akan diterima Allah kecuali bila orang yang dipergunjingkan itu telah memaafkannya.


Makassar, Telkomas 29 Desember 2009


0 komentar:

Posting Komentar